Gabung Yuh!!

Premium WordPress Themes

Selasa, 15 Januari 2013

SEJARAH PROSES KEPERAWATAN


BAB II
PEMBAHASAN



Proses keperawatan merupakan sebuah metode yang diterapkan dalam praktek keperawatan. Ia juga merupakan sebuah konsep dengan pendekatanproblem solving yangmemerlukan ilmu, teknik, dan keterampilan interpersonal untuk memenuhi kebutuhanklien/keluarganya. Proses keperawatan merupakan lima tahap proses yang konsisten, sesuai dengan perkembangan profesi keperawatan. Proses tersebut mengalami perkembangan :
1.      Proses keperawatan pertama kali dijabarkan oleh Hall (1955)
2.      Tahun 1960, proses keperawatan diperkenalkan secara internal dalam keperawatan
3.      Wiedenbach (1963) mengenalkan proses keperawatan dalam 3 Tahap : observasi, bantuan pertolongan dan validasi.
4.      Yura & Walsh (1967) menjabarkan proses keperawatan menjadi 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahun 1967, edisi pertama proseskeperawatan dipublikasikan.
5.      Bloch (1974), Roy (1975) Mundinger & Jauron (1975) dan Aspinall (1976)menambahkan tahap diagnosa, sehingga proses keperawatan menjadi 5 tahap : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proses ini dari analisis pikir : dicover (menemukan), delve (mempelajari atau menganalisis), decide(memutuskan), do (mengerjakan) dan discriminate (identik dengan evaluasi).
6.      Dengan berkembangnya waktu, proses keperawatan telah dianggap sebagai suatu dasar hukum praktik keperawatan. ANA (1973) menggunakan proses keperawatan sebagaisuatu pedoman dalam pengembangan Standart Praktik Keperawatan.
7.      Tahun 1975 : diadakan konferensi nasional tentang klasifikasi diagnosis keperawatansetiap dua tahun di Universitas Sr. Louis. Klasifikasi diagnosis keperawatan ini kemudiandisebut dengan NANDA (North American Nursing Diagnoses Association) — dibahaslebih lanjut di BAB diagnosa keperawatan.
7.
Seiring berkembangnya waktu, proses keperawatan telah dianggap sebagai dasar hukum praktek keperawatan dan telah digunakan sebagai kerangka konsep kurikulum keperawatan. Bahkan saatini definisi dan tahapan keperawatan telah digunakan sebagai dasar pengembangan praktek keperawatan, sebagai kriteria dalam program sertifikasi, danstandar aspek legal praktek keperawatan.
Proses keperawatan mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980-an. Perawat yang dididik sebelum tahun tersebut pada umumnya belum mengenal proses keperawatan karena kurikulum di pendidikan belum mengajarkan metode tersebut. Proses keperawatan mulai dikenal di pendidikan keperawatan Indonesia yaitu dalam Katalog Pendidikan Diploma III Keperawatanyang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan danKebudayaan Republik Indonesia pada tahun 1984.Pada saat ini proses keperawatan telah berkembang dan diterapkan di berbagai tatanan pelayanankesehatan di Indonesia, seperti rumah sakit, klinik-klinik, Puskesmas, perawatan keluarga, perawatan kesehatan masyarakat, dan perawatan pada kelompok khusus.
Namun secara umum penerapan proses keperawatan belum optimal dan belum menggambarkan pemecahan masalahsecara ilmiah oleh perawat, karena pada dasarnya hal ini tidak terlepas dari sumber dayakeperawatan yang ada dan dukungan institusi.Diluar negeri istilah proses keperawatan diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Lidya Hall, dansejak tahun tersebut para pakar keperawatan mendiskripsikan proses keperawatan secara bervariasi. Pada awal perkembangannya, proses keperawatan mempunyai tiga tahap, kemudianempat tahap dan pada saat ini proses keperawatan mempunyai lima tahap meliputi: pengkajian,diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Kozier et al., 1995).Proses keperawatan terus berkembang dan kemudian istilah Nursing Diagnosis mulaidiperkenalkan dalam literatur-literatur keperawatan. Pada tahun 1973, Gebbie dan Levin dariSt.Louis University School of Nursing membantu dalam menyelenggarakan konferensi pertamatentang klasifikasi diagnosa keperawatan di Amerika.

B. Definisi, Tujuan, Organisasi Dan Karakteristik Proses Keperawatan
1.      Definisi
Banyak pengertian atau definisi yang dikemukakan oleh para ahli keperawatan tentang proses keperawatan, diantaranya adalah menurut Nettina (1996) yang menyatakan bahwa proseskeperawatan adalah sesuatu yang disengaja, dengan pendekatan pemecahan masalah untuk menemukan kebutuhan keperawatan pasien dalam pelayanan kesehatan.Meliputi pengkajian (pengumpulan data) yaitu pemikiran dasar yang bertujuan untuk mengumpulkan data tentang pasien atau informasi. Yang merupakan kegiatan dalammenghimpun informasi yang meliputi unsure bio-psiko-sosio-kultural-spritual yangkomperhensif  , diagnosa keperawatan adalah suatu  ernyataan dari masalah pasien yang nyatamaupun potential berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yang pemecahannya dapatdilakukan dalam batas wewenang perawat untuk melakukannya.
Dalam merumuskan diagnosiskeperawatan dapat menggunakan pendekatan PES (problem, etiologi, Symptom)/ PE(problem,etiologi), perencanaan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan perawat guna menanggulangi yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kesehatanklien. , implementasi adalah pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap klien secara urut sesuai prioritas masalah klien yang telah dibuat.dan evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuanserta pengkajian ulang rencana keperawatan.
Serta menggunakan modifikasi mekanisme umpan balik untuk meningkatkan upaya pemecahan masalah. Proses merupakan serangkaian kegiatan yang direncanakan atau serangkaian operasional untuk mencapai hasil yang diharapkan. Proses keperawatan adalah metode yang sistematik danrasional dalam merencanakan dan memberikan pelayanan keperawatan kepada individu.Tujuannya untuk mengidentifikasi status kesehatan klien, kebutuhan atau masalah kesehatanaktual atau risiko, membuat perencanaan sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi danmelaksanakan intervensi keperawatan spesifik sesuai dengan kebutuhan (Kozier et al.1995).Sedangkan Clark (1992), mendefinisikan proses keperawatan sebagai suatu metode/ proses berpikir yang terorganisir untuk membuat suatu keputusan klinis dan pemecahan masalah.
Demikian juga dengan Yura dan Walsh (1988), menyatakan bahwa proses keperawatanadalah tindakan yang berurutan, dilakukan secara sistematik untuk menentukan masalah klien,membuat perencanaan untuk mengatasinya, melaksanakan rencana tersebut atau menugaskan orang lain untuk melaksanakannya dan mengevaluasi keberhasilan secara efektif terhadapmasalah yang diatasi.
2.      Tujuan
Tujuan dari penerapan proses keperawatan pada tatanan pelayanan kesehatan adalah:
a. Untuk mempraktekkan suatu metoda pemecahan masalah dalam praktek keperawatan.
b. Sebagai standar untuk praktek keperawatan.
c. Untuk memperoleh suatu metoda yang baku, sistematis, rasional,serta ilmiah dalammemberikan asuhan keperawatan.
d. Untuk memperoleh suatu metoda dalam memberikan asuhan keperawatan yang dapatdigunakan dalam segala situasi sepanjang siklus kehidupan.
e. Untuk memperoleh hasil asuhan keperawatan yang bermutu.
3.      Organisasi
Berdasarkan dimensi organisasi, proses keperawatan dikelompokan menjadi 5 tahap, yaitu:
a.       Pengkajian.
b.      Diagnosa.
c.       Perencanaan.
d.      Pelaksanaan.
e.       Evaluasi.
Kelima tahapan ini merupakan proses terorganisir yang mengatur pelaksanaan asuhan keperawatan berdasarkan rangkaian pengelolaan  klien secara sistematik.

4.      Karakteristik Proses keperawatan
Kozier et al. (1995) menyebutkan bahwa proses keperawatan mempunyai sembilan karakteristik,antara lain:
a.    Merupakan sistem yang terbuka dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan yang unik dariklien, keluarga, kelompok dan komunitas.
b.    Bersifat siklik dan dinamis, karena semua tahap-tahap saling berhubungan dan berkesinambungan.
c.    Berpusat pada klien, merupakan pendekatan individual dan spesifik untuk memenuhikebutuhan klien.
d.   Bersifat interpersonal dan kolaborasi.
e.    Menggunakan perencanaan.
f.     Mempunyai tujuan.
g.    Memperbolehkan adanya kreativitas antara perawat dengan klien dalam memikirkan jalan keluar menyelesaikan masalah keperawatan.
h.    Menekankan pada umpan balik, dengan melakukan pengkajian ulang dari masalah ataumerevisi rencana keperawatan.
i.      Dapat diterapkan secara luas. Proses keperawatan menggunakan kerangka kerja untuk semua jenis pelayanan kesehatan, klien dan kelompok.

Demikian juga dengan Craven dan Hirnle (2000), menurutnya proses keperawatan sebagai pedoman untuk praktek keperawatan profesional, mempunyai karakteristik:
a.       Merupakan kerangka kerja dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu,keluarga dan masyarakat.
b.      Teratur dan sistematis.
c.       Saling tergantung.
d.      Memberikan pelayanan yang spesifik kepada individu, keluarga, dan masyarakat.
e.       Berpusat pada klien, menggunakan klien sebagai suatu kekuatan.
f.       Tepat untuk diterapkan sepanjang jangka waktu kehidupan.
g.      Dapat dipergunakan dalam semua keadaan.

Sedangkan Taylor (1993) menyatakan bahwa proses keperawatan bersifat sistematis, dinamis,interpersonal, berorientasi kepada tujuan dan dapat dipakai pada situasi apapun.

C. Teori Yang Mendasari Proses Keperwatan, Implikasi Proses Keperawatan Terhadap Klien, Perawat dan Profesi

1. Teori yang mendasari proses keperawatan
a.       Teori sistem
Sistem terdiri dari: tujuan, proses dan isi.
1). Tujuan adalah sesuatu yang harus dilaksanakan, sehingga dapat memberikan arah pada sistem.
2). Proses adalah sesuatu yang berfungsi dalam memenuhi tujuan yang hendak dicapai
3). Isi merupakan bagian atau elemen yang membentuk sebuah sistem.

b.      Teori kebutuhan manusia
Teori ini memandang bahwa manusia merupakan bagian integral yang berintegrasi satu sama lain dalam memotivasi untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya (fisiologis, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri. Pada dasarnya kebutuhan dasar manusia merupakan terpenuhinya tingkat kepuasan agar manusi bisa mempertahankan hidupnya dan perawatlah yang berperan untuk memenuhinya. Kerangka kerja pada teori ini menggambarkan penerapan proses keperawatan selalu berfokus pada pemenuhan kebutuhan individu yang unik dan merupakan bagian integral dari keluargadan masyarakat.

c.       Teori persepsi
Perubahan dalam pemenuhan kebutuhan manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi individu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini akan membawa konsekwensi terhadap permasalahan keperawatan yang ditegakan pada setiap individu. Meskipun sumber masalahyang dihadapinya sama, akan tetapi setiap individu memiliki persepsi dan respon yang berbeda-beda. Misalnya, walaupun kedua pasien sama-sama terkena penyakit DM, akantetapi permasalahan keperawatan yang dihadapi tidak mesti sama. Untuk memahami arti persepsi, maka seseorang harus mengadakan pendekatan melalui karakteristik individu yang mempersepsikan dalam situasi yang memunyai makna bagi kita.
Makna di sini mengandung arti penjabaran dari persepsi, ingatan, dan tindakan. Dengan demikian persepsi memiliki arti penting dalam kehidupan, dimana kira bisa mengumpulkan data dari informasi tentang diri sendiri, kebutuhan manusia, dan lingkungan sekitar. Kondisi ini sesuai dengan tahapan dalam proses keperawatan dimana perawat dan klienmengumpulkan data. Selanjutnya dari data tersebut akan diambil makna tertentu yang dapatdigunakan dalam melakukan asuhan keperawatan.

d.      Teori informasi dan komunikasi
Salah satu tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi pasien. Oleh karena itulah perawat dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang konsep dan teori sebagai dasar interaksi dalam memahami informasi serta menjalin komunikasi yang efektif. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan mencari data, menyeleksi, memproses, danmemutuskan sebuah tindakan berdasarkan informasi tersebut.Proses keperawatan merupakan sebuah siklus karena memerlukan modifikasi pengkajianulang, perencanaan ulang, memperbaharui tindakan, dan mengevaluasi ulang. Dengandemikian asuhan keperawatan memerlukan informasi yang akurat, dan untuk melakukannya,seorang perawat membutuhkan kemampuan dalam melakukan komunikasi.

e.       Teori pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah
Setiap tindakan yang rasional selalu disertai dengan keputusan atau pilihan. Sedangkan setiap pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah menuntut kesedian orang yang terlibat agar mau menerima hal-hal baru dan perbedaan dari kondisi yang ada. Kesenjangan yang terjadi merupakan masalah yang membutuhkan jawaban serta solusi secara tepat.Salah satu tujuan dari keperawatan adalah menyelesaikan masalah yang dihadapi klien.Melaui pendekatan proses keperawatan masalah-masalah yang dihadapi dapat diidentifikasisecara tepat dan keputusan dapat diambil secara akurat.


2. Implikasi proses keperawatan terhadap klien
Proses keperawatan mendorong klien dan keluarga berpartisifasi aktif dan terlibat ke dalam 5 tahapan proses tersebut. Selama pengkajian, klien menyediakan informasi yang dibutuhkan, selanjutnya memberikanvalidasi diagnosa keperawatan, dan menyediakan umpan balik selama evaluasi.

3. Implikasi proses keperawatan terhadaap perawat
Beberapa hal yang dapat diperoleh dari proses keperawatan, antara lain:
a.Meningkatkan kepuasan dan perkembangan profesionalisasi perawat
b.Meningkatkan hubungan antara klien dengan perawat.
c.Meningkatkan pengembangan kreativitas dalam penyelesaian masalah klien.

4.      Implikasi proses keperawatan terhadaap profesi
Secara professional, profesi keperawatan melalui 5 tahapan menyajikan lingkup praktik keperawatan yang secara terus menerus mendefinisikan perannya baik terhadap klien maupun profesi kesehatan lainnya. Dengan demikian perawat bekerja melakukan sesuatu bukan hanya sekedar melaksanakan perintah dokter, melainkan melalui perencanaan keperawatan yang matang.

D. Implikasi Proses Keperawatan Terhadap Praktik Keperawatan Profesional Mendatang
Praktikkeperawatan dimasa mendatang harus dapat berorientasi pada pelayanan kepada klien. Hal ini berdasarkan pada trenn perubahan dan persaingan yang semakin ketat saat ini. Oleh karena itu dimasa mendatang nanti peerawat diharapkan dapat mendefinisikan, mengimplementasikan dan mengukur perbedaan tentang praktik keperwatan yang seharusnya berperan sebagaai indukator atas terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang profesional.
Sementara itu, karena kualitas pelayanan keperawatan dimasa mendatang belum jelas, maka perawat profesional nantinya harus dapat memberikan dampak yang positif terhadap kualitas sistem pelayanan kesehatan, yaitu :
1). Memahami dan menerapkan peran perawat.
2). Komitmen terhadap identitas keperawatan
3). Perhatian terhadap perubahan dan tren pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
4.) komitmen dalam memenuhi tuntutan tantangan sistem pelayanan kesehatan melalui upaya kreatif dan inofati.

Implikasi pelayanan keperawatan dimasa mendatang dapat dijawab dengan menerjemahkan tuntutan masyarakat akan pelayayanan keperawatan yang profesional berdasarkan “ profil perawat profesional dan milenium” tersebut di bawah ini.
 Perawat indonesia dimasa depan harus dapat memberikan asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan yang berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK  dan tuntutan kebutuhan masyarakat, sehingga perawat dituntut untuk mampu menjawab dan mengantisipasi dampak dari perubahan. Sebagai perawat profesional, peran yang di emban harus lebih mandiri (independen), sehingga pelaksanaanya dapat dipertanggung jawabkan dan dipertanggung gugatkan.




 Sumber
Nursalam, 2001, Proses & Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktek, Salemba Medika,Jakarta
/http://syehaceh.wordpress.com/tag/sejarah-proses-keperawatan
A. AzizAlimul Hidayat, Musrifatul Uliyah; Editor, Monica Ester. - Jakarta: EGC, 2004.

Jumat, 11 Januari 2013

TOF (Tetralogi Of Fallot)


Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung bawaan dengan gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi defek septum ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan.
Tetralogi of Fallot (TOF) adalah kelainan jantung kongenital dengan gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi empat hal yang abnormal meliputi Defek Septum Ventrikel, Stenosis Pulmonal, Overriding Aorta dan Hipertrofi Ventrikel Kanan. (Buku Ajar Kardiologi Anak, 2002).
Komponen yang paling penting dalam menentukan derajat beratnya penyakit adalah stenosis pulmonal dari sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin lama makin berat. Frekuensi TF lebih kurang 10 %. Derajat stenosis pulmonal sangat menentukan gambaran kelainan; pada obstruksi ringan tidak terdapat sianosis, sedangkan pada obstruksi berat sianosis terlihat sangat nyata.
Pada klien dengan TF, stenosis pulmonal menghalangi aliran darah ke paru-paru dan mengakibatkan peningkatan ventrikel kanan sehingga terjadi hipertropi ventrikel kanan. Sehingga darah kaya CO2 yang harusnya dipompakan ke paru-paru berpindah ke ventrikel kiri karena adanya celah antara ventrikel kanan akibat VSD (ventrikel septum defek), akibatnya darah yang ada di ventrikel kiri yang kaya akan O2 dan akan dipompakan ke sirkulasi sistemik bercampur dengan darah yang berasal dari ventrikel kanan yang kaya akan CO2. Sehingga percampuran ini mengakibatkan darah yang akan dipompakan ke sirkulasi sistemik mengalami penurunan kadar O2
Empat kelainan anatomi sebagai berikut :
Defek Septum Ventrikel (VSD) yaitu lubang pada sekat antara kedua rongga ventrikel.
Stenosis pulmonal terjadi karena penyempitan klep pembuluh darah yang keluar dari bilik kanan menuju paru, bagian otot dibawah klep juga menebal dan menimbulkan penyempitan
Aorta overriding dimana pembuluh darah utama yang keluar dari ventrikel kiri mengangkang sekat bilik, sehingga seolah-olah sebagian aorta  keluar dari bilik kanan
Hipertrofi ventrikel kanan atau penebalan otot di ventrikel kanan karena peningkatan tekanan di ventrikel kanan akibat dari stenosis pulmonal.


Etiologi
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan tidak diketahui secara pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor –faktor tersebut antara lain :
Faktor endogen
Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom, contohnya down syndrome, marfan syndrome.
Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan misalnya VSD, pulmonary stenosis, and overriding aorta.
Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi, kolesterol tinggi,  penyakit jantung atau kelainan bawaan.
Faktor eksogen
Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau suntik, minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine. aminopterin, amethopterin, jamu).
Ibu menderita penyakit infeksi : rubella.
Efek radiologi (paparan sinar X).
Ibu mengonsumsi alcohol dan merokok saat mengandung.
Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang terpisah menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab adalah multifaktor.

Manifestasi klinis
Murmur mungkin merupakan tanda pertama yang biasa ditemukan oleh dokter. Ia merupakan suara tambahan atau tidak biasa yang dapat didengar pada denyut jantung si bayi. Kebanyakan bayi yang menderita tetaralogy of fallot mempunyai suara murmur jantung.
Cyanosis juga merupakan pertanda umum pada tetralogy of fallot. Cyanosis adalah suatu keadaan di mana pada sirkulasi bayi kekurangan darah yang telah mengalami oksigenasi sehingga dapat timbul dengan kulit, kuku, serta bibir yang pucat.
Warna kulit pucat
Frekuensi pernafasan yang meninggi
Kulit terasa dingin
BB yang rendah
Susah untuk diberi makan karena klien cepat lelah ketika diberi makan
Clubbing finger’s.

Patofisiologi
Tetralogy of fallot biasanya berakibatkan oksigenasi yang rendah berhubungan dengan tercampurnya darah yang deoksigenasi dan oksigenasi pada ventricle kiri yang akan dipompakan ke aorta karena obstruksi pada katup pulmonal. Ini dikenal dengan istilah right-to-left shunt. Hal ini sering mengakibatkan kulit bayi menjadi pucat dan terlihat biru. Apabila Tetralogy of  fallot tidak ditangani pada jangka waktu yang panjang, maka akan mengakibatkan hipertrofi ventricle kanan progressive dan dilatasi  berhubung dengan resistensi yang meningkat pada ventricle kanan. Hal ini dapat menyebabkan DC kanan yang bisa berakhir dengan kematian.
               Proses pembentukan jantung pada janin mulai terjadi pada hari ke-18 usia kehamilan. Pada minggu ke-3  jantung hanya berbentuk tabung yang disebut fase tubing. Mulai akhir minggu ke-3 sampai minggu ke-4 usia kehamilan, terjadi fase looping dan septasi, yaitu fase dimana terjadi proses pembentukan dan penyekatan ruang-ruang jantung serta pemisahan antara aorta dan arteri pulmonalis. Pada minggu ke-5 sampai ke-8 pembagian dan penyekatan hampir sempurna. Akan tetapi, proses pembentukan dan perkembangan jantung dapat terganggu jika selama masa kehamilan terdapat faktor-faktor resiko.
Kesalahan dalam pembagian Trunkus dapat berakibat letak aorta yang abnormal (overriding), timbulnya penyempitan pada arteri pulmonalis, serta terdapatnya defek septum ventrikel. Dengan demikian, bayi akan lahir dengan kelainan  jantung dengan empat kelainan, yaitu defek septum ventrikel yang besar, stenosis pulmonal infundibuler atau valvular, dekstro posisi pangkal aorta dan hipertrofi ventrikel kanan. Derajat hipertrofi ventrikel kanan yang timbul bergantung pada derajat stenosis pulmonal. Pada 50% kasus stenosis pulmonal hanya infundibuler, pada 10%-25% kasus kombinasi infundibuler dan valvular, dan 10% kasus hanya stenosis valvular. Selebihnya adalah stenosis pulmonal perifer.
Hubungan letak aorta dan arteri pulmonalis masih di tempat yang normal, overriding aorta terjadi karena pangkal aorta berpindah ke arah anterior mengarah ke septum. Klasifikasi overriding menurut Kjellberg: (1) tidak terdapat overriding aorta bila sumbu aorta desenden mengarah ke belakang ventrikel kiri, (2) Pada overriding 25% sumbu aorta asenden ke arah ventrikel sehingga lebih kurang 25% orifisium aorta menghadap ke ventrikel kanan, (3) Pada overridng 50% sumbu aorta mengarah ke septum sehingga 50% orifisium aorta menghadap ventrikel kanan, (4) Pada overriding 75% sumbu aorta asenden mengarah ke depan venrikel kanan. Derajat overriding ini bersama dengan defek septum ventrikel dan derajat stenosis menentukan besarnya pirau kanan ke kiri.
  (Ilmu Kesehatan anak, 2001).
Karena pada TOF terdapat empat macam kelainan jantung yang bersamaan, maka :
Darah dari aorta sebagian berasal dari ventrikel kanan melalui lubang pada septum interventrikuler dan sebagian lagi berasal dari ventrikel kiri, sehingga terjadi percampuran darah yang sudah teroksigenasi dan belum teroksigenasi.
Arteri pulmonal mengalami stenosis, sehingga darah yang mengalir dari ventrikel kanan ke paru-paru jauh lebih sedikit dari normal.
Darah dari ventrikel kiri mengalir ke ventrikel kanan melalui lubang septum ventrikel dan kemudian ke aorta atau langsung ke aorta, akan tetapi apabila tekanan dari ventrikel kanan lebih tinggi dari ventrikel kiri maka darah akan mengalir dari ventrikel kanan ke ventrikel kiri (right to left shunt).
Karena jantung bagian kanan harus memompa sejumlah besar darah ke dalam aorta yg bertekanan tinggi serta harus melawan tekanan tinggi akibat stenosis pulmonal maka lama kelamaan otot-ototnya akan mengalami pembesaran (hipertrofi ventrikel kanan).

Pengembalian darah dari vena sistemik ke atrium kanan dan ventrikel kanan berlangsung normal. Ketika ventrikel kanan menguncup, dan menghadapi stenosis pulmonalis, maka darah akan dipintaskan melewati defek septum ventrikel tersebut ke dalam aorta. Akibatnya darah yang dialirkan ke seluruh tubuh tidak teroksigenasi, hal inilah yang menyebabkan terjadinya sianosis. (Ilmu Kesehatan anak, 2001).
Pada keadaan tertentu (dehidrasi, spasme infundibulum berat, menangis lama, peningkatan suhu tubuh atau mengedan), pasien dengan TOF mengalami hipoksia spell yang ditandai dengan : sianosis (pasien menjadi biru), mengalami kesulitan bernapas, pasien menjadi sangat lelah dan pucat, kadang pasien menjadi kejang bahkan pingsan. Keadaan ini merupakan keadaan emergensi yang harus ditangani segera, misalnya dengan salah satu cara memulihkan serangan spell yaitu memberikan posisi lutut ke dada (knee chest position).











































Pemeriksaan diagnostik
Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin penting pada setiap penyakit jantung bawaan sianotik untuk menilai perkembangan penyakit. Hemoglobin dan hematokrit merupakan indikator yang cukup baik untuk derajat hipoksemia. Peningkatan hemoglobin dan hematokrit ini merupakan mekanisme kompensasi akibat saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan antara 16-18 g/dl, sedangkan hematokrit 50-65%. Bila kadar hemoglobin dan hematokrit melampaui batas tersebut timbul bahaya terjadinya kelainan trombo emboli, sebaliknya bila kurang dari batas bawah tersebut berarti terjadi anemia relatif yang harus diobati.
Gambaran radiologis
Cardio thoracic ratio pasien tetralogi fallot biasanya normal atau sedikit membesar. Akibat terjadinya pembesaran ventrikel kanan dengan konus pulmonalis yang hilang, maka tampak apeks jantung terangkat sehingga tampak seperti “sepatu boot”. Pada 25% kasus arkus aorta terletak di kanan yang seharusnya di kiri, dapat berakibat terjadinya suatu tarik bayangan trakeobronkial berisi udara di sebelah kiri, yang terdapat pada pandangan antero-posterior atau dapat dipastikan oleh pergeseran esophagus yang berisi barium ke kiri. Corakan vascular paru berkurang dan lapangan paru relatif bersih, mungkin disebabkan oleh aliran darah paru paru yang berkurang dan merupakan suatu tanda diagnostik yang penting. Bila terdapat kolateral yang banyak mungkin corakan vascular paru tampak normal, atau bahkan bertambah. Pada proyeksi lateral, ruangan depan yang bersih atau kosong dapat atau tidak dipenuhi oleh ventrikel kanan yang hipertrofi.
Elektrokardiogram
Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan. Tampak pula hipertrofi ventrikel kanan. Pada anak besar sering dijumpai P pulmonal.
Ekokardiogram
Ekokardiografi dapat memperlihatkan setiap kelainan pada tetralogi fallot. Pelebaran dan posisi aorta berupa diskontinuitas septum ventrikel dan dinding depan aorta serta pelebaran ventrikel kanan mudah dilihat. Kelainan katup pulmonal seringkali sulit dinilai, demikian pula penentuan perbedaan tekanan antara ventrikel kanan dan a.pulmonalis tidak selalu mudah dilakukan.
Kateterisasi jantung
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan  untuk mengetahui defek septum ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi stenosis pulmonal perifer. Mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen, peningkatan tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan pulmonalis normal atau rendah.

Penatalaksanaan
Pada penderita yang mengalami serangan sianosis maka  terapi ditujukan untuk memutus patofisiologi serangan tersebut, antara lain dengan cara :
Posisi lutut ke dada agar aliran darah ke paru bertambah
Morphine  sulfat 0,1-0,2 mg/kg SC, IM atau Iv untuk menekan pusat pernafasan dan mengatasi takipneu.
Bikarbonas natrikus 1 Meq/kg BB  IV untuk mengatasi asidosis
Oksigen dapat diberikan, walaupun pemberian disini tidak begitu tepat karena permasalahan bukan karena kekuranganoksigen, tetapi karena aliran darah ke paru menurun. Dengan usaha diatas diharapkan anak tidak lagi takipnea, sianosis berkurang dan anak menjadi tenang. Bila hal ini tidak terjadi dapat dilanjutkan dengan pemberian :
Propanolo l 0,01-0,25 mg/kg IV perlahan-lahan untuk menurunkan denyut jantung sehingga seranga dapat diatasi. Dosis total dilarutkan dengan 10 ml cairan dalam spuit, dosis awal/bolus diberikan separohnya, bila serangan belum teratasi sisanya diberikan perlahan dalam 5-10 menit berikutnya.
Ketamin 1-3 mg/kg (rata-rata 2,2 mg/kg) IV perlahan. Obat ini bekerja meningkatkan resistensi vaskuler sistemik dan juga sedative
penambahan volume cairan tubuh dengan infus cairan dapat efektif dalam penganan serangan sianotik. Penambahan volume darah juga dapat meningkatkan curah jantung, sehingga aliran darah ke paru  bertambah dan aliran darah sistemik membawa oksigen ke seluruh tubuh juga meningkat.
Lakukan selanjutnya  yaitu :
Propanolol oral 2-4 mg/kg/hari dapat digunakan untuk serangan sianotik.
Bila ada defisiensi zat besi segera diatasi.
Hindari dehidrasi.
Tindakan Bedah
Merupakan suatu keharusan bagi semua penderita TF. Pada bayi dengan sianosis yang jelas, sering pertama-tama dilakukan operasi pintasan atau langsung dilakukan pelebaran stenosis trans-ventrikel. Koreksi total dengan menutup VSD (Ventrikel Septum Defek) seluruhnya dan melebarkan PS pada waktu ini sudah mungkin dilakukan. Umur optimal untuk koreksi total pada saat ini ialah 7-10 tahun. Walaupun kemajuan telah banyak dicapai, namun sampai sekarang operasi semacam ini selalu disertai resiko besar.
Pengobatan Konservatif
Anak dengan serangan anoksia ditolong dengan knee-chest position, dosis kecil morfin (1/8-1/4 mg) disertai dengan pemberian oksigen. Dengan tindakan ini serangan anoksia sering hilang dengan cepat. Pada waktu ini diberikan pula obat-obat pemblok beta (propanolol) untuk mengurangi kontraktilitas miokard. Pencegahan terhadap anoksia dilaksanakan pila dengan mencegah atau mengobati anemia defisiensi besi relative, karena hal ini sering menambah frekuensi serangan. Asidosis metabolic harus diatasi secara adekuat.

Asuhan keperawatan
Pengkajian
Aktivitas / istirahat :
Gejala :  keletihan / kelelahan terus menerus sepangjang hari, insomnia, nyeri dada dengan aktivitas. Dispnea pada istirahat atau pada pengerahan tenaga
Tanda : gelisah, perubahan status mental, misal : letargi. Tanda vital berubah pada aktivitas
Sirkulasi :
Gejala : Riwayat hipertensi, bengkak pada kaki, abdomen, IM baru atau akut.
Tanda : Warna : kebiruan, pucat, abu – abu, sianotik
Edema : mungkin dependen, umum, atau pitting, khususnya pada ekstremitas.
Frekuensi jantung : takikardy
Tekanan nadi : mungkin sempit, menunjukan penurunan volume sekuncup
Hepar : pembesaran/dapat teraba
Bunyi nafas : rongki
Irama jantung : disritmia, misalnya fibrilasi atrium, kontraksi ventrikel prematur/takikardi, blok jantung.
Punggung kuku : pucat atau sianotik dengan pengisian kapiler lambat.
Murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis
 
Integritas :
Gejala : ansietas, takut
Tanda : berbagai manifestasi perilaku, misalnya : ansietas, marah, ketakutan.

Eleminasi :
Gejala : penurunan berkemih, berkemih di malam hari,

Makanan atau Cairan :
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual/muntah, pembengkaan ekstremitas bawah,
Tanda : distensi abdomen, edema (umum, dependen, tekanan, pitting)

Neorosensori :
Gejala : kelemahan, pening, episode pingsan
Tanda : Letargi, diorientasi, perubahan perilaku

Nyeri atau kenyamanan :
Gejala : Nyeri dada, angina akut atau kronis, nyeri abdomen kanan atas, sakit pada otot
Tanda : tidak tenang, gelisah, focus menyempit (menarik diri)

Pernapasan :
Gejala : Dipsnea saat aktivitas, tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal, penggunaan bantuan pernapasan missal oksigen atau medikasi
Tanda : pernapasan : takipnea, napas dangkal,
Bunyi napas : mungkin tidak terdengar, dengan mengi
Fungsi mental : kegelisahan
Warna kulit : pucat atau sianosis

Pemeriksaan Diagnostik :
EKG : hipertrofi atrial atau ventrikuler, iskemia, disritmia misal takikardi, fibrilasi atria.
Ekokardiogram : Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik dan serambi, perubahan dalam fungsi atau struktur katup atau area kontraktilitas ventricular.
Rontgen dada : Dapat menunjukkan pembesaran jantung, bayangan mencerminkan dilatasi atau hipertopi bilik atau serambi, atau perubahan dalam pembuluh darah mencerminkan peningkatan tekanan pulmonal.
Enzim Hepar : Meningkat dalam gagal atau kongestif hepar.
AGD : gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan (dini) atau hipoksemia dengan peningkatan PCO2 (akhir).

Diagnosa keperawatan
Resiko penurunan cardiac output b/d adanya kelainan structural jantung.
Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan pemenuhan O2 terhadap kebutuhan tubuh.
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d oksigenasi tidak adekuat, kebutuhan nutrisis jaringan tubuh, isolasi social.
Resiko infeksi b/d keadaan umum tidak adekuat.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan aliran darah ke pulmonal
Penurunan cardiac output b.d sirkulasi yang tidak efektif dengan adanya malformasi jantung
Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan sirkulasi (anoksia kronis, serangan sianotik akut)
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori, penurunan nafsu makan
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
Kecemasan keluarga b.d kurang pengetahuan keluarga tentang diagnosis atau prognosis penyakit anak.
Resiko tinggi gangguan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intrakranial sekunder abses otak
Resiko terjadinya spell berulang b.d hipoksia.

Rencana intervensi
Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
Resiko penurunan cardiac output b/d adanya kelainan structural jantung. Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan penurunan cardiac output pada klien dapat diatasi, dengan kriteria hasil :
No Indikator IR ER
1. Denyut nadi 2 4
2. Warna kulit 2 5
3. Lemah 3 5
4. Sianosis 2 5
Kaji frekuensi nadi, RR, TD secara teratur setiap 4 jam.
Catat bunyi jantung.
Kaji perubahan warna kulit terhadap sianosis dan pucat
Pantau intake dan output setiap 24 jam.
Batasi aktifitas secara adekuat.
Berikan kondisi psikologis lingkungan yang tenang.
Intolerans aktivitas b/d ketidakseimbangan pemenuhan O2 terhadap kebutuhan tubuh. Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi dengan kriteria hasil:
No Indikator IR ER
1. Aktifitas 2 5
2. Istirahat 2 5
3. Kemudahan bernafas 3 5
4. Saturasi oksigen saat beraktifitas 3 5
5. Nadi saat aktifitas 2 5
Ikuti pola istirahat pasien, hindari pemberian intervensi pada saat istirahat.
Lakukan perawatan dengan cepat, hindari pengeluaran energi berlebih dari pasien.
Bantu pasien memilih kegiatan yang tidak melelahkan.
Hindari perubahan suhu lingkungan yang mendadak.
Kurangi kecemasan pasien dengan memberi penjelasan yang dibutuhkan pasien dan keluarga.
Respon perubahan keadaan psikologis pasien (menangis, murung dll) dengan baik.
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d oksigenasi tidak adekuat, kebutuhan nutrisi jaringan tubuh, isolasi social. Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan pertumbuhan dan perkembangan klien dapat mengikuti kurva tumbuh kembang sesuai dengan usia , dengan kriteria hasil :
No Indikator IR ER
1. Interna gambar diri 2 5
2. Kesesuaian antara realitas 3 5
3. Deskripsi bagian tubuh yang terkena 2 5
Sediakan kebutuhan nutrisi adekuat.
Monitor BB/TB, buat catatan khusus sebagai monitor.
Kolaborasi intake Fe dalam nutrisi.
Resiko infeksi b/d keadaan umum tidak adekuat. Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan infeksi pada klien tidak terjadi dengan kriteria hasil :

No Indikator IR ER
1. Tanda infeksi 2 5
2. Hygiene 3 5


Kaji tanda vital dan tanda – tanda infeksi umum lainnya.
Hindari kontak dengan sumber infeksi.
Sediakan waktu istirahat yang adekuat.
Sediakan kebutuhan nutrisi yang adekuat sesuai kebutuhan.
Resiko terjadinya spell berulang b.d hipoksia jaringan meningkat pada peningkatan aktivitas Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan serangan spell tidak terjadi dengan kriteria hasil :

No indikator IR ER
1. Tanda-tanda spell 1 5
2. Tanda-tanda vital 1 4
3. Akral hangat 3 4
4. Kesadaran klien 2 5
Monitor tanda-tanda vital
Kenali secara dini adanya tanda-tanda spell, seperti klien bertambah sianosis, peningkatan frekuensi pernapasan, gelisah, lemas kesadaran menurun dan kejang.
Ciptakan lingkungan yang tenang, hindari lingkungan penuh stres
4)        Batasi aktivitas dan pengunjung
5)        Atur posisi squatting atau knee chest jika terjadi tanda-tanda spell mulai terjadi
6)        Beri makanan yang lunak dan mudah dicerna
7)        Kolaborasi pemberian O2/obat batuk/ penurun panas/pelunak faeses/penenang serta propanolol jika diperlukan.
8)        Hidrasi cairan
Penurunan cardiac output b.d sirkulasi yang tidak efektif dengan adanya malformasi jantung
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan anak dapat mempertahakan ardia output adekuat dengan kriteria hasil :
Tanda-tanda vital normal sesuai umur
Tidak ada ; dyspneu, napas cepat dan dalam, sianosis, gelisah/letargi, takikardi, mur-mur
Pasien compos mentis
Akral hangat
pulsasi perifer kuat dan sama pada kedua ekstremitas
Capilarry Refill time < 3 detik
urine output 1-2 cc/kgBB/jam
Monitor tanda vital, pulsasi perifer, capilarry refill dengan membandingkan pengukuran pada kedua ekstremitas dengan posisi berdiri, duduk, dan tiduran jika memungkinkan.
Kaji dan catat denyut apikal selama satu menit penuh
Observasi adanya serangan sianotik
Berikan posisi knee chest pada anak
Obsrevasi adanya tanda-tanda penurunan sensori: letargi, bingung dan disorientasi
Monitor intake dan output secara adekuat
Sediakan waktu istirahat yang cukup bagi anak dan dampingi anak pada saat melakukan aktivitas
Sajikan makanan yang mudah dicerna dan kurangi konsumsi kafein
Kolaborasi dalam pemeriksaan serial ECG, foto thorak, pemberian obat-obatan anti disritmia.
Kolaborasi pemberian oksigen
Kolaborasi pemberian cairan tubuh melalui infus


Evaluasi
Klien tidak terlihat pucat.
Klien tidak terlihat lemah.
Mengalami sianosis pada tubuhnya.
Saturasi o2 saat aktifitas tercukupi.
Kecepatan respiratori normal saat aktifitas.
Nadi normal saat aktifitas.
Kemudahan bernafas saat bernafas.
Tekanan darah sistol dan diastol normal saat aktifitas
Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan batas kemampuan
Klien dapat tidur nyenyak pada malam hari
Klien terlihat lebih segar ketika terbangun.
Anak usia 6 bulan dapat :
Merangkak,duduk dengan bantuan, menggenggam, dan memasukkan benda ke mulut.
Berat badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas, dan rata – rata masa tubuh berada dalam batas normal sesuai usia.
Klien dapat berinteraksi dengan keluarga
Terbebas dari tanda - tanda infeksi
Menunjukkan hygiene pribadi yang adekuat.









BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, disimpulka bahwa Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung bawaan dengan gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi defek septum ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan. Penyakit TOF juga sangat mempengaruhi terhadap tumbuh kembang anak, sehingga akan didapatkan body emage yang tidak normal pada anak
Saran
Sebaiknya seorang perawat dalam melakuka tidaka keperawata ynag aka dilakuka harus memahami patofisiologi dari penyebab utama diri timbulnya penyakit.
Sebagai seorang perawat harus memberika penkes mengenai penyakit TOF kepada keluarga sehingga dapat membtu dalam proses peyembuha atau meegh terjadinya serangan dari penyakit TOF.










DAFTAR PUSTAKA
http://majalahkesehatan.com/kelainan-jantung-bawaan-pada-anak/
http://www.scribd.com/doc/41615979/tof
http://www.wayantulus.com/jenis-jenis-penyakit-jantung-bawaan
Lynn Betz Cecily dan A. Sowden Linda. Buku saku keperawatan pediatri, Edisi  5;        Jakarta, 2004. Penerbit Buku Kedokteran ECG
Wong  Donna L, dkk. Buku Ajar Keperawatan Pediatri, Edisi 6 vol 2; Jakarta, 2009. Penerbit Buku Kedokteran ECG
Harianto, Agus, dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi; Surabaya, 1994. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Doenges E Marilynn. Rencana Asuhan Keperawatan; Jakarta, 1993. Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Nelson. Ilmu Kesehatan Anak; Jakarta, 1992. Penerbit Buku Kedokteran ECG.