Gabung Yuh!!

Premium WordPress Themes

Selasa, 15 Januari 2013

SEJARAH PROSES KEPERAWATAN


BAB II
PEMBAHASAN



Proses keperawatan merupakan sebuah metode yang diterapkan dalam praktek keperawatan. Ia juga merupakan sebuah konsep dengan pendekatanproblem solving yangmemerlukan ilmu, teknik, dan keterampilan interpersonal untuk memenuhi kebutuhanklien/keluarganya. Proses keperawatan merupakan lima tahap proses yang konsisten, sesuai dengan perkembangan profesi keperawatan. Proses tersebut mengalami perkembangan :
1.      Proses keperawatan pertama kali dijabarkan oleh Hall (1955)
2.      Tahun 1960, proses keperawatan diperkenalkan secara internal dalam keperawatan
3.      Wiedenbach (1963) mengenalkan proses keperawatan dalam 3 Tahap : observasi, bantuan pertolongan dan validasi.
4.      Yura & Walsh (1967) menjabarkan proses keperawatan menjadi 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahun 1967, edisi pertama proseskeperawatan dipublikasikan.
5.      Bloch (1974), Roy (1975) Mundinger & Jauron (1975) dan Aspinall (1976)menambahkan tahap diagnosa, sehingga proses keperawatan menjadi 5 tahap : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proses ini dari analisis pikir : dicover (menemukan), delve (mempelajari atau menganalisis), decide(memutuskan), do (mengerjakan) dan discriminate (identik dengan evaluasi).
6.      Dengan berkembangnya waktu, proses keperawatan telah dianggap sebagai suatu dasar hukum praktik keperawatan. ANA (1973) menggunakan proses keperawatan sebagaisuatu pedoman dalam pengembangan Standart Praktik Keperawatan.
7.      Tahun 1975 : diadakan konferensi nasional tentang klasifikasi diagnosis keperawatansetiap dua tahun di Universitas Sr. Louis. Klasifikasi diagnosis keperawatan ini kemudiandisebut dengan NANDA (North American Nursing Diagnoses Association) — dibahaslebih lanjut di BAB diagnosa keperawatan.
7.
Seiring berkembangnya waktu, proses keperawatan telah dianggap sebagai dasar hukum praktek keperawatan dan telah digunakan sebagai kerangka konsep kurikulum keperawatan. Bahkan saatini definisi dan tahapan keperawatan telah digunakan sebagai dasar pengembangan praktek keperawatan, sebagai kriteria dalam program sertifikasi, danstandar aspek legal praktek keperawatan.
Proses keperawatan mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980-an. Perawat yang dididik sebelum tahun tersebut pada umumnya belum mengenal proses keperawatan karena kurikulum di pendidikan belum mengajarkan metode tersebut. Proses keperawatan mulai dikenal di pendidikan keperawatan Indonesia yaitu dalam Katalog Pendidikan Diploma III Keperawatanyang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan danKebudayaan Republik Indonesia pada tahun 1984.Pada saat ini proses keperawatan telah berkembang dan diterapkan di berbagai tatanan pelayanankesehatan di Indonesia, seperti rumah sakit, klinik-klinik, Puskesmas, perawatan keluarga, perawatan kesehatan masyarakat, dan perawatan pada kelompok khusus.
Namun secara umum penerapan proses keperawatan belum optimal dan belum menggambarkan pemecahan masalahsecara ilmiah oleh perawat, karena pada dasarnya hal ini tidak terlepas dari sumber dayakeperawatan yang ada dan dukungan institusi.Diluar negeri istilah proses keperawatan diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Lidya Hall, dansejak tahun tersebut para pakar keperawatan mendiskripsikan proses keperawatan secara bervariasi. Pada awal perkembangannya, proses keperawatan mempunyai tiga tahap, kemudianempat tahap dan pada saat ini proses keperawatan mempunyai lima tahap meliputi: pengkajian,diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Kozier et al., 1995).Proses keperawatan terus berkembang dan kemudian istilah Nursing Diagnosis mulaidiperkenalkan dalam literatur-literatur keperawatan. Pada tahun 1973, Gebbie dan Levin dariSt.Louis University School of Nursing membantu dalam menyelenggarakan konferensi pertamatentang klasifikasi diagnosa keperawatan di Amerika.

B. Definisi, Tujuan, Organisasi Dan Karakteristik Proses Keperawatan
1.      Definisi
Banyak pengertian atau definisi yang dikemukakan oleh para ahli keperawatan tentang proses keperawatan, diantaranya adalah menurut Nettina (1996) yang menyatakan bahwa proseskeperawatan adalah sesuatu yang disengaja, dengan pendekatan pemecahan masalah untuk menemukan kebutuhan keperawatan pasien dalam pelayanan kesehatan.Meliputi pengkajian (pengumpulan data) yaitu pemikiran dasar yang bertujuan untuk mengumpulkan data tentang pasien atau informasi. Yang merupakan kegiatan dalammenghimpun informasi yang meliputi unsure bio-psiko-sosio-kultural-spritual yangkomperhensif  , diagnosa keperawatan adalah suatu  ernyataan dari masalah pasien yang nyatamaupun potential berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yang pemecahannya dapatdilakukan dalam batas wewenang perawat untuk melakukannya.
Dalam merumuskan diagnosiskeperawatan dapat menggunakan pendekatan PES (problem, etiologi, Symptom)/ PE(problem,etiologi), perencanaan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan perawat guna menanggulangi yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kesehatanklien. , implementasi adalah pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap klien secara urut sesuai prioritas masalah klien yang telah dibuat.dan evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuanserta pengkajian ulang rencana keperawatan.
Serta menggunakan modifikasi mekanisme umpan balik untuk meningkatkan upaya pemecahan masalah. Proses merupakan serangkaian kegiatan yang direncanakan atau serangkaian operasional untuk mencapai hasil yang diharapkan. Proses keperawatan adalah metode yang sistematik danrasional dalam merencanakan dan memberikan pelayanan keperawatan kepada individu.Tujuannya untuk mengidentifikasi status kesehatan klien, kebutuhan atau masalah kesehatanaktual atau risiko, membuat perencanaan sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi danmelaksanakan intervensi keperawatan spesifik sesuai dengan kebutuhan (Kozier et al.1995).Sedangkan Clark (1992), mendefinisikan proses keperawatan sebagai suatu metode/ proses berpikir yang terorganisir untuk membuat suatu keputusan klinis dan pemecahan masalah.
Demikian juga dengan Yura dan Walsh (1988), menyatakan bahwa proses keperawatanadalah tindakan yang berurutan, dilakukan secara sistematik untuk menentukan masalah klien,membuat perencanaan untuk mengatasinya, melaksanakan rencana tersebut atau menugaskan orang lain untuk melaksanakannya dan mengevaluasi keberhasilan secara efektif terhadapmasalah yang diatasi.
2.      Tujuan
Tujuan dari penerapan proses keperawatan pada tatanan pelayanan kesehatan adalah:
a. Untuk mempraktekkan suatu metoda pemecahan masalah dalam praktek keperawatan.
b. Sebagai standar untuk praktek keperawatan.
c. Untuk memperoleh suatu metoda yang baku, sistematis, rasional,serta ilmiah dalammemberikan asuhan keperawatan.
d. Untuk memperoleh suatu metoda dalam memberikan asuhan keperawatan yang dapatdigunakan dalam segala situasi sepanjang siklus kehidupan.
e. Untuk memperoleh hasil asuhan keperawatan yang bermutu.
3.      Organisasi
Berdasarkan dimensi organisasi, proses keperawatan dikelompokan menjadi 5 tahap, yaitu:
a.       Pengkajian.
b.      Diagnosa.
c.       Perencanaan.
d.      Pelaksanaan.
e.       Evaluasi.
Kelima tahapan ini merupakan proses terorganisir yang mengatur pelaksanaan asuhan keperawatan berdasarkan rangkaian pengelolaan  klien secara sistematik.

4.      Karakteristik Proses keperawatan
Kozier et al. (1995) menyebutkan bahwa proses keperawatan mempunyai sembilan karakteristik,antara lain:
a.    Merupakan sistem yang terbuka dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan yang unik dariklien, keluarga, kelompok dan komunitas.
b.    Bersifat siklik dan dinamis, karena semua tahap-tahap saling berhubungan dan berkesinambungan.
c.    Berpusat pada klien, merupakan pendekatan individual dan spesifik untuk memenuhikebutuhan klien.
d.   Bersifat interpersonal dan kolaborasi.
e.    Menggunakan perencanaan.
f.     Mempunyai tujuan.
g.    Memperbolehkan adanya kreativitas antara perawat dengan klien dalam memikirkan jalan keluar menyelesaikan masalah keperawatan.
h.    Menekankan pada umpan balik, dengan melakukan pengkajian ulang dari masalah ataumerevisi rencana keperawatan.
i.      Dapat diterapkan secara luas. Proses keperawatan menggunakan kerangka kerja untuk semua jenis pelayanan kesehatan, klien dan kelompok.

Demikian juga dengan Craven dan Hirnle (2000), menurutnya proses keperawatan sebagai pedoman untuk praktek keperawatan profesional, mempunyai karakteristik:
a.       Merupakan kerangka kerja dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu,keluarga dan masyarakat.
b.      Teratur dan sistematis.
c.       Saling tergantung.
d.      Memberikan pelayanan yang spesifik kepada individu, keluarga, dan masyarakat.
e.       Berpusat pada klien, menggunakan klien sebagai suatu kekuatan.
f.       Tepat untuk diterapkan sepanjang jangka waktu kehidupan.
g.      Dapat dipergunakan dalam semua keadaan.

Sedangkan Taylor (1993) menyatakan bahwa proses keperawatan bersifat sistematis, dinamis,interpersonal, berorientasi kepada tujuan dan dapat dipakai pada situasi apapun.

C. Teori Yang Mendasari Proses Keperwatan, Implikasi Proses Keperawatan Terhadap Klien, Perawat dan Profesi

1. Teori yang mendasari proses keperawatan
a.       Teori sistem
Sistem terdiri dari: tujuan, proses dan isi.
1). Tujuan adalah sesuatu yang harus dilaksanakan, sehingga dapat memberikan arah pada sistem.
2). Proses adalah sesuatu yang berfungsi dalam memenuhi tujuan yang hendak dicapai
3). Isi merupakan bagian atau elemen yang membentuk sebuah sistem.

b.      Teori kebutuhan manusia
Teori ini memandang bahwa manusia merupakan bagian integral yang berintegrasi satu sama lain dalam memotivasi untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya (fisiologis, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri. Pada dasarnya kebutuhan dasar manusia merupakan terpenuhinya tingkat kepuasan agar manusi bisa mempertahankan hidupnya dan perawatlah yang berperan untuk memenuhinya. Kerangka kerja pada teori ini menggambarkan penerapan proses keperawatan selalu berfokus pada pemenuhan kebutuhan individu yang unik dan merupakan bagian integral dari keluargadan masyarakat.

c.       Teori persepsi
Perubahan dalam pemenuhan kebutuhan manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi individu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini akan membawa konsekwensi terhadap permasalahan keperawatan yang ditegakan pada setiap individu. Meskipun sumber masalahyang dihadapinya sama, akan tetapi setiap individu memiliki persepsi dan respon yang berbeda-beda. Misalnya, walaupun kedua pasien sama-sama terkena penyakit DM, akantetapi permasalahan keperawatan yang dihadapi tidak mesti sama. Untuk memahami arti persepsi, maka seseorang harus mengadakan pendekatan melalui karakteristik individu yang mempersepsikan dalam situasi yang memunyai makna bagi kita.
Makna di sini mengandung arti penjabaran dari persepsi, ingatan, dan tindakan. Dengan demikian persepsi memiliki arti penting dalam kehidupan, dimana kira bisa mengumpulkan data dari informasi tentang diri sendiri, kebutuhan manusia, dan lingkungan sekitar. Kondisi ini sesuai dengan tahapan dalam proses keperawatan dimana perawat dan klienmengumpulkan data. Selanjutnya dari data tersebut akan diambil makna tertentu yang dapatdigunakan dalam melakukan asuhan keperawatan.

d.      Teori informasi dan komunikasi
Salah satu tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi pasien. Oleh karena itulah perawat dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang konsep dan teori sebagai dasar interaksi dalam memahami informasi serta menjalin komunikasi yang efektif. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan mencari data, menyeleksi, memproses, danmemutuskan sebuah tindakan berdasarkan informasi tersebut.Proses keperawatan merupakan sebuah siklus karena memerlukan modifikasi pengkajianulang, perencanaan ulang, memperbaharui tindakan, dan mengevaluasi ulang. Dengandemikian asuhan keperawatan memerlukan informasi yang akurat, dan untuk melakukannya,seorang perawat membutuhkan kemampuan dalam melakukan komunikasi.

e.       Teori pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah
Setiap tindakan yang rasional selalu disertai dengan keputusan atau pilihan. Sedangkan setiap pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah menuntut kesedian orang yang terlibat agar mau menerima hal-hal baru dan perbedaan dari kondisi yang ada. Kesenjangan yang terjadi merupakan masalah yang membutuhkan jawaban serta solusi secara tepat.Salah satu tujuan dari keperawatan adalah menyelesaikan masalah yang dihadapi klien.Melaui pendekatan proses keperawatan masalah-masalah yang dihadapi dapat diidentifikasisecara tepat dan keputusan dapat diambil secara akurat.


2. Implikasi proses keperawatan terhadap klien
Proses keperawatan mendorong klien dan keluarga berpartisifasi aktif dan terlibat ke dalam 5 tahapan proses tersebut. Selama pengkajian, klien menyediakan informasi yang dibutuhkan, selanjutnya memberikanvalidasi diagnosa keperawatan, dan menyediakan umpan balik selama evaluasi.

3. Implikasi proses keperawatan terhadaap perawat
Beberapa hal yang dapat diperoleh dari proses keperawatan, antara lain:
a.Meningkatkan kepuasan dan perkembangan profesionalisasi perawat
b.Meningkatkan hubungan antara klien dengan perawat.
c.Meningkatkan pengembangan kreativitas dalam penyelesaian masalah klien.

4.      Implikasi proses keperawatan terhadaap profesi
Secara professional, profesi keperawatan melalui 5 tahapan menyajikan lingkup praktik keperawatan yang secara terus menerus mendefinisikan perannya baik terhadap klien maupun profesi kesehatan lainnya. Dengan demikian perawat bekerja melakukan sesuatu bukan hanya sekedar melaksanakan perintah dokter, melainkan melalui perencanaan keperawatan yang matang.

D. Implikasi Proses Keperawatan Terhadap Praktik Keperawatan Profesional Mendatang
Praktikkeperawatan dimasa mendatang harus dapat berorientasi pada pelayanan kepada klien. Hal ini berdasarkan pada trenn perubahan dan persaingan yang semakin ketat saat ini. Oleh karena itu dimasa mendatang nanti peerawat diharapkan dapat mendefinisikan, mengimplementasikan dan mengukur perbedaan tentang praktik keperwatan yang seharusnya berperan sebagaai indukator atas terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang profesional.
Sementara itu, karena kualitas pelayanan keperawatan dimasa mendatang belum jelas, maka perawat profesional nantinya harus dapat memberikan dampak yang positif terhadap kualitas sistem pelayanan kesehatan, yaitu :
1). Memahami dan menerapkan peran perawat.
2). Komitmen terhadap identitas keperawatan
3). Perhatian terhadap perubahan dan tren pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
4.) komitmen dalam memenuhi tuntutan tantangan sistem pelayanan kesehatan melalui upaya kreatif dan inofati.

Implikasi pelayanan keperawatan dimasa mendatang dapat dijawab dengan menerjemahkan tuntutan masyarakat akan pelayayanan keperawatan yang profesional berdasarkan “ profil perawat profesional dan milenium” tersebut di bawah ini.
 Perawat indonesia dimasa depan harus dapat memberikan asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan yang berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK  dan tuntutan kebutuhan masyarakat, sehingga perawat dituntut untuk mampu menjawab dan mengantisipasi dampak dari perubahan. Sebagai perawat profesional, peran yang di emban harus lebih mandiri (independen), sehingga pelaksanaanya dapat dipertanggung jawabkan dan dipertanggung gugatkan.




 Sumber
Nursalam, 2001, Proses & Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktek, Salemba Medika,Jakarta
/http://syehaceh.wordpress.com/tag/sejarah-proses-keperawatan
A. AzizAlimul Hidayat, Musrifatul Uliyah; Editor, Monica Ester. - Jakarta: EGC, 2004.

0 komentar:

Poskan Komentar